Air Terbatas, Petani Penebel Didorong Terapkan Teknologi Hemat Air
Tak harus selalu tergenang. Begitulah prinsip AWD yang kini dikenalkan penyuluh pertanian kepada petani Penebel untuk menghemat air sekaligus menjaga produktivitas padi di tengah ancaman El Nino.
PENEBEL, TABANAN — Air menjadi semakin berharga ketika ketersediaannya terbatas. Di tengah tantangan perubahan iklim dan kondisi El Nino, petani Penebel, Tabanan, mulai didorong menerapkan teknologi budidaya yang mampu menghemat penggunaan air tanpa mengabaikan kebutuhan tanaman.
Petani Kecamatan Penebel mendapat pendampingan penyuluh pertanian penerapan Alternate Wetting and Drying (AWD), salah satu teknologi pengelolaan air pada budidaya padi.
Pendampingan
dilakukan secara langsung di lahan petani, salah satunya di Subak Buruan, pada
lahan garapan I Wayan Sukasada. Di hamparan sawah inilah penyuluh tidak hanya
menyampaikan teori, tetapi mendampingi petani memahami cara mengatur pemberian
air sesuai kebutuhan tanaman dan kondisi lahan.
AWD menerapkan pola pengairan secara berselang. Sawah tidak harus terus-menerus tergenang, tetapi diberi air pada saat tanaman membutuhkannya. Dengan pola tersebut, penggunaan air dapat ditekan sekaligus tetap menjaga pertumbuhan tanaman.
Bagi penyuluh pertanian, penerapan AWD menjadi bagian dari upaya mendorong perubahan cara bertani yang lebih adaptif terhadap kondisi iklim.
“Petani perlu memahami bahwa tanaman padi tidak harus selalu dalam kondisi tergenang. Dengan pengaturan air yang tepat, kebutuhan tanaman tetap dapat dipenuhi sekaligus menggunakan air secara lebih efisien,” ujar penyuluh Yuli Aryani,SP. pertanian saat melakukan pendampingan.
Pendampingan
di lapangan menjadi penting karena teknologi baru tidak cukup hanya dijelaskan.
Petani perlu melihat, memahami, dan mencoba langsung bagaimana teknologi
tersebut bekerja dalam kondisi nyata.
Di Subak Buruan, penyuluh bersama petani mengamati kondisi lahan dan perkembangan tanaman, sekaligus mendiskusikan waktu serta pola pemberian air. Pendekatan tersebut membuat petani lebih mudah memahami prinsip AWD dan kaitannya dengan kondisi sawah yang mereka kelola.
“Pendampingan langsung di sawah membuat kami lebih mudah memahami AWD. Kami bisa melihat bagaimana air diberikan dan kapan sawah tidak perlu terus digenangi. Ini pengetahuan baru bagi kami untuk menggunakan air lebih hemat,” kata I Wayan Sukasada.
Menurut Sukasada, teknologi akan lebih mudah diterapkan apabila petani mendapatkan pendampingan secara berkelanjutan.
“Kami
berharap penyuluh terus mendampingi kami. Kalau ada teknologi baru, kami bisa
belajar dan mencoba langsung di lahan. Yang penting teknologi tersebut bisa
diterapkan dan memberikan manfaat bagi petani,” ujarnya.
Penerapan AWD pada dasarnya bukan sekadar mengurangi air yang masuk ke sawah. Lebih dari itu, teknologi tersebut mengubah cara petani mengelola air berdasarkan kebutuhan tanaman.
Bagi petani Penebel, pendekatan tersebut menjadi semakin relevan ketika ketersediaan air menghadapi tekanan. Efisiensi penggunaan air menjadi bagian dari strategi menjaga keberlanjutan budidaya padi.
Peran
penyuluh pun menjadi semakin penting. Bukan hanya sebagai penyampai informasi,
tetapi sebagai pendamping yang membantu petani menerjemahkan teknologi menjadi
praktik di lapangan.
Dari Subak Buruan, pesan sederhananya jelas, ketika air terbatas, cara mengelolanya harus semakin cermat. AWD menjadi salah satu teknologi yang dikenalkan penyuluh agar setiap tetes air dapat dimanfaatkan lebih efisien untuk menjaga produktivitas sawah.
Koresponden: Koresponden: Ida Bagus Gde Dwijayanta, BPP Penebel Tabanan
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0