Dari Petani, JUT Bale Bandung Terwujud
Berawal dari keluhan petani, berujung menjadi jalan menuju lahan. JUT Subak Bale Bandung sepanjang 275 meter kini mulai terwujud. Petani mengusulkan kebutuhan, penyuluh mengawal, pemerintah memberi dukungan.
Bukan sekadar membuka jalan. JUT Bale Bandung lahir dari kebutuhan petani, dikawal penyuluh, dan dikerjakan secara swakelola untuk memudahkan akses menuju lahan.
BULELENG - Jalan itu mungkin terlihat sederhana. Namun bagi petani Subak Bale Bandung, Desa Kayu Putih, Kecamatan Sukasada, Buleleng, kehadirannya punya arti besar.
Sebelum
jalan tersedia, membawa pupuk, benih, dan berbagai sarana produksi pertanian
(saprodi) menuju lahan bukan perkara mudah. Petani harus mengandalkan tenaga
manual. Ketika musim tanam tiba, pekerjaan menjadi semakin berat karena
kebutuhan saprodi datang hampir bersamaan.
Persoalan itulah yang kemudian mendorong petani menyuarakan kebutuhan akan akses menuju lahan.
Dari kebutuhan petani tersebut, gagasan pembangunan Jalan Usaha Tani (JUT) mulai diwujudkan. Penyuluh pertanian hadir mendampingi, mengawal kebutuhan di lapangan, sekaligus membantu menghubungkan aspirasi petani dengan dukungan program pemerintah.
Kini, JUT Subak Bale Bandung mulai terwujud melalui dukungan APBN Tahun 2026 sebesar Rp110 juta. Jalan sepanjang 275 meter tersebut dibangun secara swakelola dengan melibatkan masyarakat dan anggota subak.
“Dulu
memang cukup susah membawa pupuk dan kebutuhan lainnya ke lahan karena belum
ada badan jalan. Sekarang sudah ada akses, tentu kami lebih mudah membawa
saprodi, terutama nanti saat mulai musim tanam,” ujar Kelian Subak Bale
Bandung, I Wayan Sumartika.
Bagi Sumartika dan anggota subak, pembangunan JUT bukan sekadar menghadirkan badan jalan. Jalan tersebut menjawab kebutuhan yang selama ini mereka rasakan langsung di lapangan.
Apalagi, musim tanam Desember sudah di depan mata. Dengan akses yang lebih terbuka, mobilitas petani menuju lahan diharapkan menjadi lebih mudah. Membawa pupuk, benih maupun kebutuhan budidaya lainnya tidak lagi harus mengandalkan tenaga manual seperti sebelumnya.
Subak Bale Bandung memiliki luas areal 28,66 hektare dengan pola tanam padi satu kali dalam setahun atau IP 100. Karena itu, akses menuju lahan menjadi bagian penting dalam mendukung kelancaran kegiatan budidaya.
Di titik inilah peran penyuluh menjadi penting.
PPL Desa Kayu Putih, I Dewa Nyoman Darmayasa, S.P., M.P., tidak hanya hadir memberikan pendampingan teknis budidaya. Ia juga ikut mengawal kebutuhan petani agar persoalan yang muncul di lapangan dapat disampaikan dan dicarikan jalan keluarnya.
“Yang
paling penting adalah menjawab kebutuhan petani. Ketika akses ke lahan lebih
mudah, membawa saprodi juga lebih ringan. Mudah-mudahan JUT ini benar-benar
dimanfaatkan dan dirawat bersama, sehingga manfaatnya bisa dirasakan dalam
jangka panjang,” ungkap Darmayasa.
Bagi penyuluh, keberhasilan program bukan semata-mata ketika pembangunan selesai. Lebih dari itu, bagaimana infrastruktur yang dibangun benar-benar digunakan, dirawat, dan memberikan manfaat bagi petani.
Karena itu, keterlibatan petani dalam pembangunan secara swakelola menjadi bagian penting. Petani tidak ditempatkan hanya sebagai penerima manfaat, tetapi menjadi bagian dari proses mewujudkan kebutuhan mereka sendiri.
Dukungan pun datang dari berbagai pihak. Pemerintah Desa Kayu Putih, Dinas Pertanian Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Buleleng, Kementerian Pertanian, serta penyuluh pertanian bersinergi dalam mendorong terwujudnya akses tersebut.
Namun, cerita JUT Bale Bandung tetap bermula dari petani.
Dari
kegelisahan karena sulit membawa saprodi. Dari kebutuhan akan akses yang lebih
mudah. Dari aspirasi yang disampaikan kepada penyuluh. Lalu bergerak menjadi
sebuah jalan yang kini mulai membuka akses menuju lahan.
Inilah wajah pembangunan pertanian yang tumbuh dari bawah. Petani menyampaikan kebutuhan, penyuluh mengawal dan mendampingi, pemerintah menghadirkan dukungan, dan masyarakat ikut mengerjakannya.
JUT Bale Bandung akhirnya bukan hanya jalan sepanjang 275 meter.
Ia adalah bukti bahwa ketika kebutuhan petani didengar dan didampingi dengan baik, sebuah persoalan di lapangan bisa berubah menjadi solusi nyata.
Sebab bagi petani, jalan menuju lahan bukan sekadar akses. Ia adalah jalan menuju musim tanam, produktivitas, dan harapan panen yang lebih baik. (DND/DenBagus)
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0