Maraton Ngubin, Penyuluh Gianyar Ukur Produktivitas Padi
Sawah boleh menghijau, tetapi hasil panen harus berbicara dengan angka. Melalui “maraton ngubin”, BPP Kecamatan Gianyar mengukur capaian produktivitas padi di sejumlah pertanaman, dengan hasil sementara diproyeksikan mencapai 8,6 ton GKP per hektare.
GIANYAR – Keberhasilan budidaya padi tidak cukup dilihat dari tanaman yang hijau dan subur. Ukuran yang lebih nyata adalah berapa banyak gabah yang mampu dihasilkan dari setiap satuan luas.
Hal itu dipotret Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Gianyar melalui kegiatan pengambilan ubinan di sejumlah pertanaman padi, Jumat (18/9).
Koordinator BPP Kecamatan Gianyar Ni Nyoman Apriani,
SP., bersama jajaran penyuluh melakukan pengambilan
ubinan di empat titik, yakni Subak Lokasera dan Subak Sulangai, Desa Suwat; Subak
Jerokuta, Desa Tegal Tugu; serta Subak Teba Jero, Desa Temesi.
Hasil pengambilan ubinan menunjukkan capaian yang cukup menggembirakan. Berat gabah berada pada kisaran 4,5–5,4 kilogram per ubinan. Jika dikonversikan, produktivitas diproyeksikan mencapai 76–86 kilogram per are, atau setara 7,6–8,6 ton gabah kering panen (GKP) per hektare.
Menurut Ni Nyoman Apriani, ubinan penting untuk mendapatkan gambaran produktivitas secara terukur.
“Ubinan bukan sekadar menimbang gabah, tetapi menjadi bahan evaluasi penyuluh dan petani untuk melihat hasil budidaya secara nyata dan menentukan perbaikan pada musim tanam berikutnya,” ujarnya.
Bagi penyuluh, angka hasil ubinan menjadi cermin dari
seluruh proses budidaya yang telah dilakukan petani. Mulai dari persiapan
lahan, penggunaan benih bermutu, pengaturan air, pemupukan, pengendalian gulma
dan organisme pengganggu tanaman, hingga pemeliharaan tanaman menjelang panen.
Tanaman yang sehat, pertumbuhan seragam, jumlah anakan produktif optimal, malai yang baik, serta pengisian bulir yang maksimal pada akhirnya akan menentukan berat gabah yang dihasilkan.
Karena itu, ubinan tidak berhenti pada angka hasil panen. Data tersebut dapat digunakan sebagai bahan evaluasi untuk mengetahui faktor yang mendukung maupun menghambat pencapaian produktivitas.
Penyuluh bersama petani dapat mencermati sejumlah
komponen, antara lain populasi tanaman, jumlah anakan produktif, jumlah malai,
gabah bernas dan gabah hampa, kondisi tanaman, serangan organisme pengganggu
tanaman, pengelolaan air, serta ketepatan pemupukan.
Dengan data tersebut, proses budidaya menjadi lebih terukur. Jika hasil meningkat, teknologi yang diterapkan dapat dikaji untuk mengetahui faktor pendukungnya. Sebaliknya, jika hasil belum optimal, data ubinan menjadi dasar untuk menentukan langkah perbaikan.
Bagi BPP Kecamatan Gianyar, kegiatan ini sekaligus memperkuat fungsi penyuluh sebagai pendamping petani dari proses budidaya hingga evaluasi hasil. Penyuluh tidak hanya hadir ketika tanaman membutuhkan penanganan, tetapi juga membantu petani membaca hasil usahataninya berdasarkan data.
Apa yang dilakukan
harus dapat diukur. Apa yang diukur dapat dievaluasi. Dan apa yang dievaluasi
menjadi dasar untuk memperbaiki budidaya pada musim tanam berikutnya.
Dengan demikian, ubinan menjadi salah satu cara sederhana untuk memastikan bahwa keberhasilan budidaya padi tidak berhenti pada tampilan tanaman, tetapi dapat dibuktikan melalui capaian produktivitas yang terukur.
Koresponden: Gede Jaya Mahendra BPP Gianyar
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0